antivirus, antikanker, antijamur

ANTIVIRUS

Tahapan siklus replikasi :

•       Adsorpsi virus ke sel (pengikatan, attachment)

•       Penetrasi virus ke sel

•       Uncoating (dekapsikasi)

•       Transkripsi tahap awal

•       Translasi tahap awal

•       Replikasi genom virus

•       Transkripsi tahap akhir

•       Assembly virus dan pelepasan virus

Penggolongan Obat :

–  Antinonretrovirus

•       Antivirus untuk herpes

•       Antivirus untuk influenza

•       Antivirus untuk HBV dan HCV

–  Antiretrovirus

•       Nucleoside Reverse Transcription Inhibitor (NRTI)

•       Nucleotide Reverse Transcription Inhibitor (NtRTI)

•       Non-Nucleoside Reverse Transcription Inhibitor (NNRTI)

•       Protease Inhibitor (PI)

•       Viral entry inhibitor

ANTIVIRUS UNTUK HERPES

Senyawa Mekanisme Kerja Spektrum Antivirus
Yang telah disetujui1 Kemungkinan2
Asiklovir Dimetabolisme menjadi asiklovir trifosfat, yang menghambat DNA polimerase virus. Sitomegalovirus, Herpes simpleks dan Varicella zoster Epstein-Barr, herpes B (herpes simiac)
Valasiklovir Sama dengan asiklovir Sitomegalovirus, Herpes simpleks dan Varicella zoster
Gansiklovir Dimetabolisme menjadi gansiklovir trifosfat, yang menghambat DNA polimerase virus. Sitomegalovirus Herpes simpleks, Varicella zoster, Epstein-Barr, Human herpesvirus 8, herpes B
Pensiklovir Dimetabolisme menjadi pensiklovir trifosfat, yang menghambat DNA polimerase virus. Herpes simpleks
Famsiklovir Sama dengan pensiklovir Herpes simpleks dan Varicella zoster Hepatitis B
Foskarnet Menghambat DNA polimerase virus dan reverse transcriptase pada tempat ikatan pirofosfat Sitomegalovirus, Herpes simpleks dan Varicella zoster yang resisten terhadap asiklovir Human herpesvirus 8, HIV-1
Ribavirin Mengganggu mRNA virus Demam Lassa, hantavirus, Respiratory Synctytial Virus (RSV), hepatitis C (pada kasus kronik dalam kombinasi dengan IFN-α) Parainfluenza, influenza A dan B, cacar air, hantavirus
Lamivudin Hambatan DNA polimerase virus dan reverse transcriptase virus Hepatitis B (kronik), HIV-1
Amantadin Hambatan kanal ion protein M2 dan modulasi pH intrasel Influenza A
Rimantadin Hambatan kanal ion protein M2 dan modulasi pH intrasel Influenza A
IFN-α Induksi enzim seluler yang mengganggu sintesis protein virus Hepatitis B dan C, Human herpesvirus 8, papillomavirus Hepatitis D
NRTI Menghentikan perpanjangan rantai DNA virus, dengan cara bergabung pada ujung 3’ rantai DNA virus HIV (dan retrovirus lain)
NNRTI Menghambat HIV-1 reverse transcriptase melalui interaksi dengan allosteric pocket site HIV-1

ASIKLOVIR

Resistensi mutasi gen timidin kinase virus atau pada gen DNA polimerase.

Indikasi Infeksi HSV-1 dan HSV-2 baik lokal maupun sistemik (termasuk keratitis herpetik, herpetik ensefalitis, herpes genitalia, herpes neonatal dan herpes labialis) dan inveksi VZV (varisela dan herpes zoster)

Efek Samping Asiklovir topical dalam pembawa polietilen glikol : iritasi mukosa dan rasa terbakar reversibel pada luka genitalia. Asiklovir oral: mual, diare, ruam, atau sakit kepala; insufisiensi renal dan neurotoksisitas.

VALASIKLOVIR

Efek samping sama kayak asiklovir

GANSIKLOVIR

Indikasi : Infeksi CMV, terutama CMV retinitis pada pasien immunocompromised (misalnya AIDS) untuk terapi atau pencegahan

Efek samping mielosupresi, neutropenia, trombositopenia. Zidovudin dan obat sitotoksik lain meningkatkan mielotoksisitas gansiklovir

ANTIVIRUS UNTUK INFLUENZA

AMANTIDIN DAN RIMANTIDIN

MK bekerja pada protein M2 dengan destabilisasi ikatan protein-protein proses transport DNA virus ke nukleus.

Resistensi mutasi domain transmembran protein M2

Indikasi influenza A

ES gastrointestinal ringan, gelisah, kurang konsentrasi, hilang nafsu makan. Efek neurotoksis meningkat jika bersama antihistamin dan antikolinergik

OSELTAMVIR DAN ZANAVIR

Mk inhibitor Neuraminidase (penting dalam penglepasan virus dari sel terinfeksi)

Resistensi hambatan ikatan pada obat, hambatan / hilangnya efek aktivitas neuraminidase.

Indikasi influenza A dan B

ES Zanavir kantuk, bronkospasme, dan penurunan fungsi paru reversibel oseltamivir mual, muntah, nyeri abdomen.

RIBAVIRIN

MK setelah mengalami fosforilasi, mengganggu tahap awal transkripsi dan menghambat sintesis ribonukleoprotein.

Resistensi belum ada

Indikasi RSV dgn resiko tinggi. Kombinasi dengan (pegylated) interferon alfa untuk terapi hepatitis C

ES aerosol iritasi konjungtiva, ruam, wheezing sistemik anemia reversibel, supresi sumsum tulang oral fatiguem batuk, ruam, pruritism mual, insomnia, dispnea, depresi, anemia. Teratogenik, embriotoksikm onkogenik, gonadotoksik.

ANTIVIRUS UNTUK HBV DAN HCV

Lamivudin Adevofir Entekavir Interferon
MK menghentikan sintesis DNA DNA chain terminator 

↑ aktivitas sel NK

kompetitor deoksiguanosin trifosfat translokasi inti kompleks protein seluler.
Resistensi mutasi pada DNA polymerase  virus tidak ditemukan resistensi resistensi silang dengan entekavir hambatan aktivitas protein kinase oleh HCV
Far-kin BA 80%, 

Cmax 0.5-1.5 jam, T 9 jam,

Dipivoxil, 

BA 50%,

T 5-7 jam

C max 0.5-1.5 jam 

T 77-149 jam

IM, SK BA 80%
Indi-kasi infeksi HBV (wild-type dan precore variants). Infeksi HBV resisten terhadap lamivudin aktif terhadap CMV, HSV1 dan 2 serta HBV Infeksi kronik HBV, infeksi kronik HCV, sarcoma Kaposi pada pasien HIV, bbrp tipe malignansi dan multiple sclerosis.
dosis Per oral 100 mg 

Lama terapi 1 tahun

Per oral 

dosis tunggal 10 mg

Per oral 0,5 mg/hari AC Infeksi HBV : dewasa: 5 MU/hari atau 10 MU/hari

Interferon alfa menghambat pembentukan sel normal dan malignan, meningkatkan aktivasi sel NK, ekspresi MHX kelas I, mempengaruhi differensiasi sel. Oleh leukosit

Interferon beta kayak alfa kec dif.sel. oleh fibroblast, epitel, makrofag

Interferon gamma menghambat pertumbuhan sel normal dan malignan, meningkatkan aktivitas makrofag, meningkatkan ekspresi MHC kelas I dan II, menginduksi sekresi sitokin lain dan bersama meningkatkan sintesis imunoglobulin. Oleh limfosit

ES alfa : flu-like symptoms, fatiguem leukopenia, depresi, anoreksia, rambut rontok, gangguan mood, iritabilita.

NRTI (nucleoside reverse transcription inhibitor)

MK aktif setelah difosforilasi. Ga punya gugus 3’-hidroksil sehingga penggabungannya dengan DNA meghentikan perpanjangan rantai (antagonis kompetitif).

ZIDOVUDIN

Mk Analog timin.

ES granulositopenia, anemia, nyeri kepala, insomnia, mual, mialgia

Indikasi HIV yang pernah mengalami penumonia, jml absolut limfosit tipe CD4/200mm3

DIDANOSIN

MK analog adenin

ES sakit kepala, muntah ruam, neuropati periferm pankreatitis, asidosis laktat

Indikasi HIV tipe 1 dan 2 esp tingkat lanjut

ZALSITABIN

MK analog sitosin

ES neuropati periferm stomatis, ruam, pankreatitis

Indikasi HIV 1 2 esp dewasa tingkat lanjut yg  ga responsif thd zidovudin, kombinasi kec dgn didanosin

STAVUDIN

MK : analog timin

Indikasi HIV 1 2 est tingkat lanjut

ES neuropati perifer, asidosis laktat, peningkatan transcriptase reversibel

LAMIVUDIN (3tc)

MK analog sitosin

Indikasi HIV 1 2 & HBV, kombinasi dgn zidovudin . abakavir

ES asidosis laktat, hepatomegali dgn stetosis, sakit kepala, mual

EMTRISITABIN (derivat 2-flororinated lamivudin)

Indikasi HIV 1 2 HBV

ES nyeri abdomen, kram, diarem lemah otot, sakit kepala lipodistrofi, mual, rinitis, ruam, pruritus

ABAKAVIR

MK analog guanin

Indikasi HIV resisten zidovudin dan lamivudin (kombisa pd k2ny)

ES demam, ruam, sakit kepala, ggg GIT, batuk, sesak napas, sakit tenggorokan

ANALOG NUKLEOTIDA (NtRTI)

TENOFOIR DISOPROKSI

Ò  Mekanisme kerja : bekerja pada HIV-RT (dan HBV-RT)dengan menghentikan pembentukan rantai DNA virus.

Ò  Resistensi : resistensinya disebabkan oleh mutasi pada RT kodon 65

Ò  Spektrum aktivitas : HIV (tipe 1 dan 2) serta berbagai retrovirus lainnya dan HBV

Ò  Indikasi : infeksi HIV dalam kombinasi dengan efevirenz tidak boleh dikombinasi dengan lamivudin dan abakavir

Ò  Efek samping : mual, muntah, flatulens dan diare.

NNRTI

Nevirapin Delavirdin Efavirenz
Mekanisme kerja Bekerja pada situs alosterik tempat ikatan non-substrat HIV-1 RT idem idem
Farmakokinetik BA oral 90%; t1/2 25-30 jam; C plasma 60%; metabolisme terjadi di hati; terjadi autoinduksi metabolisme BA oral 85%; t1/2 2-11 jam;  C plasma 98%; metabolisme terjadi di hati; tdk tjd autoinduksi metabolisme BA oral 50%; t1/2 40-50 jam;C plasma 99%; metabolisme terjadi di hati; terjadi autoinduksi metabolisme
Indikasi Idem delavirdin; cegah transmisi HIV-1 antara ibu dgn anak pd wanita hamil yg tdk dapat trapi antiretrovirus pd waktu melahirkan. kombinasi dengan antiretrovirus lain (terutama NRTI) untuk pengobatan infeksi HIV-1 kombinasi dengan antiretrovirus lain (terutama NRTI dan NtRTI) untuk pengobatan infeksi HIV-1
Dosis Per oral 200 mg/hari selama 14 hari pertama (1 tablet 200 mg/hari), kemudian 400 mg/hari (2 tablet 200 mg/ hari) Per oral 1200 mg/hari (2 tablet 200 mg 3 kali hari); juga tersedia dlm bentuk tab 100 mg Dosis: Per oral 600 mg/hari (1 tablet 600 mg/hari, diminum sebelum tidur u/ mengurangi efek samping SSP-nya)
Efek samping Ruam, reaksi alergi, mual, fatigue, demam, sakit kepala, somnolen, diare, nyeri abdomen, mialgia, dan tes fungsi liver abnormal (peningkatan enzim hati) Ruam, peningkatan tes fungsi hati, dan pernah dilaporkan menyebabkan neutropenia Sakit kepala, pusing, mimpi buruk, sulit berkonsentrasi, dan ruam

PROTEASE INHIBITOR

MK berikatan reversibel dengan situs aktif HIV-protease pada tahap transisi

Indikasi HIV 1 2

ES mual muntah diare, intoleransi glc, diabetes, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia

Resistensi :

  • Sakuinavir mutasi protease shg tjd resistensi silang dgn PI lain
  • Nelvinavir mutasi protease kodon 30
  • Amprenavir idem
  • Lopinavir belum tahu
  • Atazanavir
  • Emfuvirtid nyeri, eritema, pruritus, iritasi, nodul/kista (untuk HIV 1)

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan obat antivirus :

o   Lamanya terapi

o   Pemberian terapi tunggal atau kombinasi

o   Interaksi Obat

o   Kemungkinan terjadinya resistensi

Pilihan utama :

  • Herpes genitalia : asiklovir (awal&hamil), valasiklovir, famsiklovir
  • Herpes ensefalitis : asiklovir IV, ok pas koma.
  • Herpes mukotan : asiklovir IV. Alt pensiklovir IV
  • Herpes neonatal : sulit. Paling asiklovir oral jangka panjang
  • Avian influenza : zanamivir & oseltamivir
  • SARS : ribavirin oral / IV
  • Hepatitis b kronik : interferon, alfa, lamivudin, adefovir
  • Hcv : peg-interferon alfa dengan ribavirin
  • HIV AIDS : monoterapi, karena :

o   menghindari/menunda resistensi obat atau meluaskan cakupan terhadap virus dan memperlama efek,

o   peningkatan efikasi karena adanaya efek aditif atau sinergistik,

o   peningkatan target reservoir jaringan/selular (contoh: limfosit, makrofag) virus,

o   gangguan pada lebih dari satu fase hidup virus,

o   penurunan toksisitas karena dosis yang digunakan menjadi lebih rendah.

Keterbatasan dalam HIV :

–          tidak mampu sepenuhnya memberantas virus

–          jenis HIV resisten sering muncul

–          Penularan HIV melalui perilaku yang beresiko dapat terus terjadi

–          ES jangka pendek akibat pengobatan sering terjadi

ANTIKANKER

II.2 Mekanisme Kerja Obat Anti Kanker

Kerja Antikanker Berhubungan dengan Siklus Sel Kanker

Sel tumor dapat berada dalam 3 keadaan :

1.      Yang sedang membelah (siklus proliferative)

2.      Yang dalam keadaan istirahat (tidak membelah, G0)

3.       Yang secara permanen tidak membelah.

Sel tumor yang sedang membelah terdapat dalam beberapa fase yaitu

1. fase mitosis (M)

2. pascamitosis (G1)

3. fase sintesis DNA (fase S)

4. fase pramitosis (G2), dengan ciri : sel berbentuk tetraploid, mengandung DNA dua kali lebih banyak daripada sel fase lain dan masih berlangsungnya sintesis RNA dan protein.

Obat kanker ditinjau dari siklus sel :

1. Cell Cycle Specific (CSS)

  • Memperlihatkan toksisitas selektif terhadap fase-fase tertentu dari siklus sel.
  • Efektif pada kanker yang berproliferasi tinggi, misalnya kanker sel darah.

Contoh : vinkristin, vinblastin, merkaptopurin, hidroksiurea, metotreksat dan asparaginase.

2. Cell Cycle Non Spesific (CCNS)

Zat alkilator, antibiotic antikanker (daktinomisin, daunorubisin, doksorubisin, plikamisin, mitomisin), sisplatin, prokarbazin dan nitrosourea.

Golongan Sub Golongan Obat
1. ALKILATOR Mustar Nitrogen Mekloretamin 

Siklofosfamid

Ifosfamid

Melfalan

Klorambusil

Etilenamin dan metilmelamin Trietilen-melamin (TEM) 

Thiotepa

Metilhidrazin Prokarbazin
Alkil sulfonat Busulfan
Nitrosourea Karmustin (BCNU) 

Lomustin (CCNU)

Semustin (metal CCNU)

Streptozotosin

Platinum Sisplatin 

Karboplatin

Oksaliplatin

2. ANTI METABOLIT Analog Pirimidin 5-fluorourasil 

Sitarabin

6-Azauridin

Floksuridin (FUDR)

Gemsitabin

Analog Purin 6-Merkaptopurin 

6-Tioguanid (T6)

Fludarabin, Pentostatin

Antagonis Folat Metotreksat 

Pemetreksed

3. PRODUK ALAMIAH Alkaloid Vinka Vinblastin (VLB) 

Vinkristin (VCR)

Vinorelbin

Taksan Paklitaksel 

Dosetaksel

Epipodofilotoksin Etoposid 

Teniposid

Kamptotesin Irinotekan 

Topotekan

Antibiotik Daktinomisin (Aktinomisin D) 

Antrasiklin :

Daunorubisin

Doksorubisin

Mitramisin

Antrasenedion :

Mitoksantron

Mitomisin

Bleomisin

Enzim L-asparaginase
4. HORMON DAN ANTAGONIS Adrenokortikosteroid Prednison 

Hidrokortison

Progestin Hidroksiprogesteron kaproat 

Medroksiprogesteron asetat

Megestrol asetat

Estrogen Dietilstilbestrol 

Etinil estradiol

Anti estrogen Tamoksifen 

Toremifen

Androgen Testosteron propionate 

Fluoksimesteron

Anti Androgen Flutamid
Penghambat Adrenokortikoid Mitotan 

Aminoglutetimid

Analog GRH Leuprolid
Penghambat Aromatase Anastrozol 

Letrozol

Eksemestan

5. LAIN-LAIN Substitusi Area Hidroksiurea
Derivat Metilhidrazin Prokarbazin
Diferentiating agent Tretinoin 

Arsen Trioksid

Penghambat tirosin kinase Imatinib 

Gefitinib

Penghambat preteosom Bortezumib
Modulator Respon Biologik Interferon alfa 

Interleukin 2

Antibodi Monoklonal

II.3.1  ALKILATOR

II.3.1.1  MUSTAR NITROGEN

a. Siklofosfamid

Indikasi : leukimia limfotik kronik penyakit hodgkin, limfoma non-hodgkin, mialoma multipel, neuroblastoma,, tumor payudara, ovarium, paru, cervix, testis, jaringan otot, tumor wilms

  • ES

–          leukopenia berat setelah hari ke 10-12

–          sistitis hemoragik, 20 % pada anak dan 10 % pada dewasa

–          anorekasia, mual,muntah

–          amenore, stomatitis aftosa, hiperpigmentasi kulit, enterokolitis, ikterus dan hipoprotrombinemia

–          miokarditis pada dosis tinggi

  • Kontra Indikasi :

–          pasien dengan sistitis hemoragik

b. Klorambusil

Indikasi : leukimia limfositik kronik, panyakit hodgkin dan limfoma non hodgkin, makroglobulinemia primer.

II.3.1.2  GOLONGAN METILHIDRAZIN

a. Prokarbazin

Mekanisme kerja alkilasi asam nukleat. nonspesifik terhadap siklus sel. Indiksi primernya adalah untuk pengobatan penyakit Hodgkin stadium IIIB dan IV, teutama kombinasi dengan mekloretamin, vinkristin, dan prednisone (regimen MOPP). Prokarbamazin hanya diberikan pada pasien yang sebelumnya tidak mendapat kemoterapi.

ES :Mual dan muntah, Anoreksia, stomatitis, disfagia, dan diare, depresi sumsum tulang, trombositopenia yaitu berupa petekiae, purpura, epitaksis, hemoptisis, hematemesis, dan melena, Dermatitis, puritus, hiperpigmentasi, dan alopesia. karsinogenik dan mutagenik.

Sebelum pengobatan harus dilakukan pemeriksaan darah, sumsum tulang, fungsi hati, dan ginjal.

Interaksi obat

Prokarbazim meningkatkan efek obat-obat penghambat susunan saraf pusat (barbiturat, fenotiazin, narkotik).

b. Dakarbazin (DITC)

metilasi pada sel dan dapat membunuh sel tumor pada semua fase dari siklus sel.

Indikasi: kemoterapi melanoma metastatik dan berbagai sarcoma, untuk jenis kanker lain tidak atau kurang efektif.

Kontraindikasi: kehamilan, menyusui, peka terhadap dakarbazin, pasien yang sebelumnya mendeita myelosupresi

II.3.1.3 BUSULFAN

Indikasi : leukemia mielositik kronik

Efek samping : depresi sumsum tulang, hiperpigmentasi, granulositopoesis dan trombopoesis pada dosis rendah, eritropoesis pada dosis tinggi. Efek jangka panjang yaitu katarak, fibrosis ovarium, amenore, atrofi testis, aspermia dan ginekomastia

II.1.3.4 NITROSOUREA

a. Karmustin (BCNU)

Indikasi: penyakit hodgkin yg refraktor inhibitoe thd pengobatan, melanoma malignum, mieloma multipel

b. Lomusitin (CCNU)

Indikasi : karsinoma paru, limfoma hodgkin & non, karsinoma renal

c. Streptozosin

Indikasi : karsinoma pankreas

ES : gagal ginjal & diabetes pd hewan

II.3.1.5 GOLONGAN PLATINUM

Sisplatin (cis-diamminedichloroplatinum), karboplatin, oksaliplatin

Indikasi : kanker testis, ovarium, bull-bull, esofagus, paru, kolon

ES : nefrotoksisitas, neuropati perifer

II.3.2 ANTIMETABOLIT

II.3.2.1 ANTAGONIS FOLAT

a. Metotreksat

Indikasi : Leukemia limfositik akut, kariokarsinoma, kanker payudara, leher, dan kepala, paru, buli-buli, sarkoma osteogenik

Efek samping : terutama mengenai saluran cerna, sumsum tulang dan mukosa mulut. Jangka panjang gangguan fungsi hati berat, fibrosis menetap dan sirosis. demam disertai infiltrasi pulmonum diikuti gangguan fungsi paru

Kontraindikasi : pasien dengan gangguan sumsum tulang, hati, dan terutama gangguan ginjal karena metotreksat hanya dieliminasi melalui ginjal. Dan pada trimester pertama kehamilan karena dilaporkan menyebabkan abortus.

II.3.2.2 ANALOG PIRIMIDIN

Efek samping : Leukopenia, trombositopenia, stomatitis, alopesia, hiperpigmentasi dan ataksia serebelar, supresi sumsum tulang, flu-like syndrome, astenia, gangguan fungsi hati, pneumonitis, hemolytic uremic syndrome (HUS)

Golongan Obat Dosis Indikasi
5-fluorourasil (5-FU) Infus kontinu: 15 mg/kg/hari selama 5 hari; atau 15 mg/kg IV sekali seminggu Kanker payudara, kolon, esofagus, leher dan kepala.  

Leukemia limfositik dan mielositik akut, limfoma non-Hodgkin.

6-Azauridin Oral 220 mg/kgBB/hari 

Penujang oral 135 mg/kgBB/hari

Mikosis fungoides, polisitemia vera
Floksuridin (FUDR) Intra arteri 0,1-0,6 mg/kgBB/hari Leukemia limfositik akut dan kronik, leukemia granulositik akut dan kronik, koriokarsinoma
Sitarabin 100 mg/m2/hari untuk 5-10 hari infus IV atau SC tiap 8 jam
Fludarabin 25 mg/m2/hari IV, selama 5 hari, interval 28 hari Hairy cell leucemia, leukemia limfositik kronik, limfoma non-Hodgkin sel kecil
Gemsitabin 1000 mg/m2 IV, tiap minggu selama 7 minggu, diikuti istirahat 1 minggu Kanker paru, pankreas, dan ovarium

II.3.2.3 ANALOG PURIN

Merkaptopurin (6-MP) dan Tioguanin

Indikasi : Leukemia limfositik akut dan kronik, leukemia mieloblastik akut dan kronik, koriokarsinoma

ES : supresi sumsum tulang, anemia, granulositopenia, trombositopenia, anoreksia, mual, muntah, diare, stomatitis, Ikterus dan peningkatan enzim hati.

II.3.3 PRODUK ALAMIAH

II.3.3.1 ALKALOID VINKA

a. Vinkristin dan Vinblastin

•      Mekanisme kerja

à berikatan secara spesifik dengan tubulin, komponen protein mikrotubulus, spindle mitotik dan memblok polimerisasinya. Akibatnya terjadi disolusi mikrotubulus, sehingga sel berhenti dalam metafase. Kelompok obat ini juga disebut spindle poison

Obat Indikasi Efek Samping
Vinkristin (VCR) Leukimia limfositik akut, neuroblastoma, tumor Wilms, rabdomiosarkoma, limfoma Hodgkin dan non Hodgkin Gangguan sistem saraf (refleks tendon Achilles, parestesia berat, hilangnya refleks tendon yang dalam, ataksia, foot drop, slapping gait dan menyusutnya otot). Gangguan saraf otonom (konstipasi, nyeri abdominal), gangguan saraf otak (ptosis, diplopia dan paralisis abdusens )
Vinblastin (VLB) Penyakit Hodgkin, limfoarkoma, koriokarsinoma, tumor payudara
Vinorelbin kanker paru jenis non-small cell dan pada kanker payudara mielosupresi berupa netropenia, mual, muntah, peningkatan enzim hati, neurotoksisitas, dan SIADH

II.3.3.2 TAKSAN

•      Mekanisme kerja

à sama dengan alkaloid vinka yaitu sebagai racun spindle dengan cara berikatan dengan mikrotubulus yang menyebabkan polimerisasi tubulin

Obat Indikasi Efek samping
Paklitaksel Kanker ovarium, payudara, paru, buli-buli, leher dan kepala reaksi alergi, depresi sumsum tulang dan neuropati perifer
Dosetaksel Sama paklitaksel Sama paklitaksel

II.3.3.3 EPIPODOFILOTOKSIN

Mekanisme Kerja

à membentuk kompleks tersier dengan topoisomerase II dan DNA sehingga mengganggu penggabungan kembali DNA yang secara normal dilakukan oleh topoisomerase. Enzim tetap terikat pada ujung bebas DNA dan menyebabkan akumulasi potongan-potongan DNA. Selanjutnya terjadi kematian sel.

Sel pada siklus S dan G2 sangat sensitive terhadap obat ini. Sel-sel yang resisten menunjukkan amplifikasi gen mdr-1 yang menyandi glikoprotein-P untuk mekanisme efluks berbagai zat dari sel; mutasi atau penurunan ekspresi topoisomerase II, atau mutasi pada gen supresor p53 yang menetukan proses apoptosis.

Obat Indikasi Efek samping
Etoposid Kanker testis, payudara, paru, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukimia mielositik akut, sarkoma kaposi Lekopeni, mual, muntah, stomatitis, diare, alopesia yang reversible dan  Hepatotoksisitas
Teniposid Sama Sama

II.3.3.4 ANTIBIOTIK

•      Mekanisme kerja

Antrasiklin : berinterkalasi dengan DNA à fungsi DNA sebagai template, pertukaran sister chromatid terganggu à untai DNA putus.

Juga bereaksi dengan sitokrom P450 reduktase, kemudian bereaksi dengan oksigen menghasilkan radikal bebas àsel kanker hancur. *pembentukan radikal dirangsang oleh adanya Fe.

Daktinomisin : terikat kuat pada rantai rangkap DNA secara interkalasi antara 2 pasangan basa guanin-sitosin yang berdekatan. à menghambat semua bentuk sintesis RNA yang DNA dependent.

Bleomisin : bersifat sitotoksik berdasarkan kemampuannya memecah DNA. à mengikat DNA yang menyebabkan satu atau kedua rantai pecah setelah pembentukan radikal bebas, dan penghambatan biosintesis DNA.

–     Fragmentasi DNA disebabkan oleh oksidasi komplek DNA-bleomisin-Fe(II) dan menyebabkan penyimpangan kromosom. Bleomisin merupakan obat CCS yang menyebabkan akumulasi sel pada fase G2.

Mitoksantron : merupakan antrasena dengan struktur mirip antrasiklin. àberikatan dengan DNA dan menyebabkan putusnya untaian DNA yang disebabkan terhentinya sintesis DNA dan RNA

Plikamisin : merupakan antibiotik kromomisin yang bekerja dengan mengikatkan dirinya pada DNA, yang dalam bentuk komplek antibiotik-Mg2+ àmenghentikan sintesis RNA yang diatur DNA.

Obat Indikasi Efek samping
Daktinomisin (aktinomisinD) Korio-karsinoma, tumor Wilms, testis, rabdomiosarkoma, sarkoma kaposi depresi sumsum, peracunan
Antrasiklin 

•      Daunorubisin

•      Doksorubisin

•      Mitramisin

Leukoma limfositik, mielositik akut, sarkoma jaringan lunak, sarkoma osteogenik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukimia akut, kanker payudara, genitourinemia, tiroid, paru, lambung, neuroblatoma elektrokardiografi (takikardi sinus, pendataran gelombang T, depresi segmen ST ), depresi sumsum tulang berupa leukopenia, alopesia, stomatitis dan esofagitis.
Mitoksantron Leukimia mielositik akut, kanker prostat dan payudara
Bleomisin Kanker paru, lambung, anus. Karsinoma testis dan serviks, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin hiperestesia dan bengkak di jari yang disusul dengan terjadinya vesikel, hiperkeratosis telapak tangan dan stomatitis
Plikamisin kanker testis mual dan muntah, trombositopenia, leukopenia, hipokalsemia, gangguan perdarahan dan parecunan hati.

II.3.3.5 ENZIM

L-Asparaginase

merupakan katalisator enzim yang berperan dalam hidrolisis asparagin menjadi asam aspartat dan amonia sehingga sel kanker kekurangan aspartat karena sel kanker tidak memiliki enzim asparagin sintetase dan memerlukan suplai asparagin dari lingkungan sehingga sintesis sel terhenti  yang menyebabkan sel kanker mati.

Dosis : IV, 50-200 IU/kgBB/hari

Indikasi : leukimia limfositik akut

Efek samping : reaksi hipersensitivitas

berupa demam menggigil, mual,

muntah, dan urtikaria. Alergi berat

dapat menyebabkan bronkospasme,

gagal napas, dan hipotensi.

II.3.4 HORMON DAN ANTAGONIS

II.3.4.1. HORMON

Obat Dosis Indikasi
Prednison Oral, 20-100 mg/1-2 hari Leukimia limfositik akut dan kronik, limfoma Hodgkin dan non Hodgkin, tumor payudara
Hidroksiprogesteron kaproat IM, 1,0 g, 2x/minggu Karsinoma payudara dan endometrium
Medroksiprogesteron asetat IM, 200-600 mg, 2x/minggu Tumor endometrium
Megestrol asetat Oral, 40 mg/hari, min 2 bulan Tumor endometrium
Dietilstilbestrol Oral, 1-5 mg 3xsehari Karsinoma prostat
Etinil estradiol Oral, 0,1-1,0 mg, 3xsehari
Tamoksifen, toremifen Tumor payudara
Testosteron propionat fluoksimesteron IM, 50-100 ug, 3x/minggu 

Oral 10-20 mg/hari

Tumor payudara

II.3.4.2 PENGHAMBAT AROMATASE

Obat Indikasi Efek samping
Aminoglutetimid Karsinoma korteks adrenal, payudara insufisiensi adrenal, mielosupresi, reaksi alergi, letargi, ruam kulit.
Anastrazol Karsinoma payudara Nausea, muntah-muntah, sakit kepala, flushing, udema,  tidak bertenaga (asthenia), kekurangan estrogen (flushing, atrofia mukosa, pendarahan, rontok rambut)
Letrozol Karsinoma payudara
Eksemestan Karsinoma payudara

Mekanisme kerja

  1. Hidroksiurea: menghambat enzim ribonukleotida reduktase à menghambat sintesis ribonukleotida trifosfat àsintesis DNA fase S terhenti.
  2. Arsen trioksida : menginduksi diferensiasi melalui degradasi PMI/ RAR-alpha protein. Juga menginduksi apoptosis.
  3. Penghambat Tirosin Kinase

a. Imatinib : penghambat tirosin kinase pada onkoprotein Bcr-Abl dan mencegah fosforilasi substrat kinase oleh ATP.

b. Gefitinib : penghambat spesifik EGFR yang secara kompetitif menghambat pengikatan ATP. àmenghambat pertumbuhan berbagai sel yang tergantung pada EFGR

4. Modulator Respon Biologik (MRB) : antibody-dependent cellular toxicity (ADCC), complement-dependent cytotoxicity (CDC) dan induksi apoptosis secara langsung. Namun mekanisme yang relevan secara klinik tidak diketahui dengan pasti.

Obat Indikasi Efek samping
Hidroksiurea astrositoma pediatrik, medulablastoma dan tumor neuroektodermal, leukemia mielositik kronik dan pengobatan krisis blast pada leukemia mielositik akut mielo supresi, mual, muntah, diare, mukisitis, sakit kepala, letargi, rash makulo popular dan pruritus.
Derivat Asam Retinoat 

(Tretinoin)

leukemia promielositik akut (LPA) toksisistas vitamin A (sakit kepala, demam, kulit dan mukosa kering rash, pruritus dan konjungtivitis, retinoid acid syndrome, peningkatan kolesterol dan trigliserida),  toksisitas SSP (pusing, ansietas, depresi, bingung dan agitasi)
Arsen Trioksida leukimia promielositik akut perubahan EKG dengan pemanjangan interval QT, aritmia
Penghambat Tirosin Kinase 

•      Imatinib

•      Gefitinib

leukemia mielositik kronik (LMK)

PRINSIP :

1.      Total cell-killed

—  Suatu tumor ganas harus dianggap sebagai sejumlah sel yang seluruhnya harus dibasmi. dideteksi bila jumlah sel kanker ± 109

—  dibasmi ± 99,9%; sisa ± 106

—  Jumlahnya yang dapat dikendalikan oleh mekanisme pertahanan tubuh (105)

2.       Perpanjangan hidup pasien = jumlah sel yang berhasil dibasmi dengan pengobatan.

  • Berkurangnya sel kanker berbanding lurus dengan dosis.
  • efek non terapi juga berbanding lurus dengan dosis.

Hal yg perlu dipertimbangkan :

–          Jumlah sel,

–          Hubungan dosis-respon-

–          Jadwal pengobatan

–          Kemoterapi dimulai sedini mungkin

–          Tujuan kemo

–          Sifat pertumbuhan tumor ganas

–          Efek selektif relatif

–          Terapi kombinasi

 

ANTIJAMUR

Pengobatan oleh jamur sistemik :

aspergillosis

—  Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus

—  Penderita dengan penyakit paru kronis dan penderita yang alergi terhadap jamur ini, jamur ini dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan bronchus

—  Obat pilihan: amfoterisin B IV dengan dosis 0,5-1,0 mg/kgBB setiap hari dalam infuse lambat, dapat tingkatkan pada infeksi berat.

—  Blastomyces dermatitidis

—  Ketika konidia dari B. dermatitidis terhirup oleh manusia, terjadi perubahan bentuk dari miselium menjadi khamir dan sistem imun manusia tidak sempat menghasilkan respon imun terhadap perubahan tersebut.

—  menyebar melalui sistem limfa dan aliran darah. Obat pilihan :

o   ketokonazol peroral 400 mg sehari selama 6-12 bulan.

o   Itrakonazol suspense diberikan dalam keadaan lambung kosong dengan dosis dua kali 100 mg sehari (dikumur terlebih dahulu untuk mengoptimalkan efek topikalnya)

o   Itrakonazol IV diberikan untuk infeksi berat lewat infuse dengan dosis satu kali 200 mg sehari, diikuti dengan dua kali 100 mg selama 12 hari.

kandidiasis

—  Candida albicans

—  Infeksi pada bagian tubuh yang kembab : kulit, membran mukosa mulut, saluran pernapasan, dan vagina.

—  Obat pilhan :

—  Amfoterisin B

—  infeksi tidak mengenai parenkim ginjal, pengobatan cukup dengan amfoterisin B 50 µg/ml dalam air steril selama 5-7 hari.

—  Bila ada kelainan mengenai parenkim ginjal : pasien harus diberi amfoterisin B IV seperti mengobati kandidiasis berat pada organ lainnya.

koksidioidomikosis

—  Coccidioides immitis

—  Spora masuk ke dalam paru lewat udara pernafasan.

—  Obat pilihan :

—  amfoterisin B IV : penyebaran ekstrapulmonar, immunosupresi dan  AIDS

—  Ketokonazol : terapi jangka panjang terhadap pasien dengan lesi kulit, tulang dan jaringan melunak pada pasien dengan reaksi imunologik normal

Kriptokokosis : amfoterisisn B IV, flusitosin, flukonazol

Histoplasmosis ketokonazol, + amfoterisin B IV

Mukormikosis amfoterisin B IV

Parakoksidioidomikosis ketokonazol, amfoterisin B

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s